ASAL USUL BEDUG KRAMAT JATISAWIT (JOKO BAJUL)
Alfaqih Warsono
Pada zaman dahulu di desa Jatisawit tinggallah seorang laki-laki
bernama Ki Kamal dengan isterinya Nyi Santi. Pada waktu itu yang
menjadi lurah adalah Ki Sardana yang hanya mempunyai seorang anak gadis
bernama Katijah. Pekerjaan Ki Kamal adalah mencari ikan di sungai atau
laut. Kedua suami isteri itu hidup dengan sangat sederhana, sabar dan
tawakkal walaupun tidak mempunyai anak. Tiap pagi sekitar jam 05.00, Ki
Kamal pergi dengan membawa jala untuk mencari ikan. Sore harinya ikan
itu dijual oleh Nyi Santi, isterinya.
Pada suatu hari, malam
Kamis, Nyi Santi bermimpi kejatuhan pulung (mendapat rejeki). Pada pagi
harinya, ternyata tak satupun ikan yang diperolehnya. Krn hari sudah
sore, maka ia pulang dg membawa kembu (tempat ikan) yang kosong. Di
tengah jalan ia menemukan anak buaya. Setibanya di rumah, anak buaya
tersebut ditaruh di suatu tempat dan dipeilhara seperti layaknya
manusia. Buaya tersebut memiliki keanehan, yaitu suka sekali makan nasi,
sambal dan segala yang biasa dimakan manusia. Beberapa bulan kemudian,
buaya tersebut tumbuh besar dan tak pernah mengganggu manusia.
Pada waktu terang bulan, ketika Ki Kamal dan Nyi santi sudah tidur,
buaya itu menjelma menjadi manusia yang ganteng dan menamakan dirinya
Joko Bajul. Kemudian ia pergi mencari teman sampai ke rumah Ki Kuwu
Sardana. Di situ terdapat banayak muda-mudi yang sedang berkumpul. Lama
kelamaan Katijah, anak Ki Kuwu, jatuh cinta kepada Joko Bajul. Oleh
karena kegantengan Joko Bajul itu, Katijah minta supaya ayahnya
mengawinkannya dengan Joko Bajul yg berpura-pura menjadi anak Ki Kamal.
Beberapa hari kemudian, Ki Sardana datang ke rumah Ki Kamal untuk
meminta anaknya supaya mengawini Katijah. Ki Kamal mengatakan bahwa ia
tdk mempunyai anak laki-laki, tetpai Ki Kuwu tidak percaya. Secara
diam-diam Ki Kamal dan Nyi Santi menyelidiki perbuatan buaya itu, karena
ia mengira bahwa buayalah yang menjelma menjadi manusia. Setelah
diadakan penyelidikan, terbuktilah benar apa yang diperkirakan Ki kamal.
Karena kasihan melihat sikap Ki Kuwu itu, akhirnya Joko Bajul
dikawinkan dengan Katijah. Karena senangnya, maka pesta perkawinan itu
diadakan selama tujuh hari tujuh malam.
Lama-kelamaan Joko Bajul
bermaksud akan membawa isterinya ke negaranya sendiri, yaitu di dasar
laut. Setelah diijinkan oleh orang tuanya, Katijah mengikti suaminya.
Bajul mengajaknya ke tepi sungai, lalu Bajul membaca mantera sehingga
air laut itu seakan tidak tampak lagi dan membantuk jalan besar. Di situ
kedua suami-isteri dihormati oleh seluruh keluarga beserta
teman-temannya dari dasar laut.
Joko Bajul tidak memiliki
pekerjaan tetap, ia jarang tinggal di rumah. Sebelum pergi meninggalkan
riumah, ia berpesan pada istrinya supaya tidak naik ke para (bagian atas
langit-langit rumah). Memang sudah menjadi kebiasaan manusia melanggar
sesuatu yang dilarangnya. Katijah naik ke atas para meski sudah dilarang
suaminya. Ia ingin tahu mengapa suaminya melarangnya. Begitu sampai di
atas para, sampailah ia ke daratan. Katijah merasa bingung dengan
kejadian itu. Ia menangis sambil pulang ke rumah ayahnya.
Seminggu setelah kejadian itu, Joko Bajul datang ke rumah Ki Kuwu
Jatisawit untuk menanyakan isterinya. Sesudah bertemu, Katijah tidak mau
diajak kembali. Akhirnya ia berpesan kepada rakyat Jatisawit:
“Kalau nanti ada ribut-ribut di desa Jatisawit atau ada serangan dari
desa lain, bunyikan bedug ini, nanti saya akan datang memberi bantuan”.
Bedug itu dibuat oleh Joko Bajul sendiri da diserahkan kepada Kuwu
Jatisawit. Sesudah pesan tersebut Bajul pulang ke negaranya, yaitu di
dasar laut.
Karena merasa takut akan adanya peristiwa datangnya
buaya itu, maka sampai sekarang di desa Jatisawit tidak pernah
dibunyikan bedug. Akhirnya bedug tersebut dihanyutkan ke sungai, dan
masjid Jatisawit tidak memiliki bedug lagi.
Kisah Legenda Jatisawit, Indramayu
Unknown
Minggu, Januari 26, 2014
Unknown
Integer sodales turpis id sapien bibendum, ac tempor quam dignissim. Mauris feugiat lobortis dignissim. Aliquam facilisis, velit sit amet sagittis laoreet, urna risus porta nisi, nec fringilla diam leo quis purus.